foto: istimewa - cikaindonesia.com
CIKANEWS/infrastruktur - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) telah melakukan right issue atau penawaran umum terbatas (PUT) I dengan hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) sebesar Rp2,74 triliun tahun lalu. Dari right issue tersebut, tercatat realisasi penggunaannya masih sangat minim.
Melansir keterbukaan informasi yang diterbitkan perseroan di Jakarta, Senin (18/1/2016), realisasi penggunaan dana tersebut Rp 39,15 miliar atau sekira 1,44 persen. Adapun sisa dana hasil penawaran umum hingga akhir 2015 tersebut, yakni Rp2,67 triliun.
Dana tersebut digunakan untuk membangun transportasi massal berbasis rel (LRT), beserta stasiun dan properti pendukungnya dengan konsep TOD. “Dengan terpakainya dana sejumlah tersebut, maka Perseroan masih memiliki dana hasil right issue sebesar Rp 2,67 triliun per akhir Desember 2015,” papar Direktur PT Adhi Karya Tbk, Haris Gunawan dalam keterangan resmi, Minggu (17/1).
Dalam right issue pada tanggal efektif, 22 September 2015 lalu Adhi Karya meraup dana sebesar Rp 2,74 triliun. setelah dikurangi biaya-biaya maka hasil bersih yang diraup mencapai Rp 2,71 triliun.
Berdasarkan prospektus aksi korporasi tersebut, seluruh dana akan dialokasikan untuk membangun kereta ringan (light rail transit/LRT) beserta fasilitas pendukungnya. “Sisa dana hasil right issue yang belum digunakan tersebut kini tersimpan dalam bentuk deposito dan giro di Bank Mandiri, Bank Mega dan Bank Negara Indonesia,” imbuhnya.
Proyeksi kenaikan investasi LRT menurutnya merujuk pada isi peraturan presiden (Perpres) terkait kereta ringan yang menyebut panjang rel LRT tahap pertama bertambah menjadi 84 kilometer (KM). Semula, LRT tahap pertama diperkirakan sekitar 40 km.
“Untuk tambahan modal nanti akan kami gunakan pinjaman bank yang ditarik secara bertahap,” katanya.
(KML)