Cika Indonesia
Client Sign In
Ada Apa dengan Kereta Cepat Bandung? (Bagian 1)
Tuesday, 22 Dec 2015 - 16:38:39
Foto: Antarafoto.com

CIKANEWS/transportasi - Kereta Cepat Jakarta – Bandung yang rencananya akan dilakukan groundbreaking (peletakan batu pertama) pada awal tahun 2016, akan menjadi babak baru dunia perkeretaapian di Indonesia, bahkan dunia transportasi di republik ini. Dampak pembangunan kereta cepat yang begitu luas, tidak hanya akan mengubah pola transportasi masyarakat, tetapi juga akan menumbuhkan sentra-sentra ekonomi baru di sepanjang koridor Jakarta – Bandung, telah menimbulkan sejumlah pertanyaan di benak publik.

Pertanyaannya umumnya adalah keraguan publik akan kelancaran proyek ini, mengingat dana yang dibutuhkan sangat besar lebih dari Rp 70 triliun. Berikut ini Redaksi Cikanews telah menghimpunnya dalam 9 Pertanyaan seputar Kereta Cepat:
 
1. Apakah Penting Membangun Kereta Cepat Jakarta - Bandung? 
Kereta Cepat Jakarta-Bandung adalah infrastruktur yang dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan sentra ekonomi baru di koridor Jakarta-Bandung, seperti Cikarang, Karawang, Bandung Barat (Walini) dan Kota Bandung (Gedebage). Jadi, kereta cepat Jakarta – Bandung tidak dapat dipandang sebagai moda transportasi yang membawa penumpang dari Jakarta ke Bandung, tetap sebagai sarana mendorong pertumbuhan ekonomi koridor Jakarta – Bandung, karena terintegrasi dengan pembangunan kawasan. Proyek Kereta Cepat Jakarta – Bandung adalah fase pertama dan akan diteruskan sampai Semarang, Surabaya, dan bila mungkin sampai Denpasar, Bali. Selain memanfaatkan lahan sebagai bagian dari optimalisasi aset BUMN, proyek ini akan menciptakan lapangan kerja baru pada masa konstruksi dan masa operasional.
 
2. Apakah Jalan Tol Cipularang yang menghubungkan Jakarta – Bandung masih belum memuaskan? 
Jalan tol Cipularang dalam kondisi normal (bukan liburan) sudah mengalami kepadatan tinggi, sehingga jarak Jakarta – Bandung 150 Km yang seharusnya dapat ditempuh 1,5 Jam – 2 Jam, saat ini mencapai 3 – 4 Jam. Kepadatan volume kendaraan rute Jakarta-Bandung menimbulkan kemacetan dan antrian kendaraan yang panjang. Walaupun saat ini tersedia juga moda transportasi udara dan kereta api kecepatan rendah.
 
Kondisi ini juga berdampak pada terhambatnya angkutan barang dari Jakarta ke wilayah lain di pulau Jawa. Kepadatan volume kendaraan ini akan terus meningkat dalam 5 – 10 tahun ke depan. Hasil survey demand forecast (LAPI ITB) menyebutkan bila kereta cepat Jakarta – Bandung tersedia, sebagian besar (60%) pengguna transportasi kereta api konvensional, pengendara mobil pribadi, penumpang travel, dan penumpang bus mau beralih menggunakan kereta cepat.
 
3. Biaya pembangunan kereta cepat 5,5 milyar dolar AS atau sekitar 78 triliun, apakah tidak terlalu besar? 
Biaya pembangunan kereta cepat US$ 5,5 Miliar sangat besar bila dibiayai oleh APBN atau APBD namun jika dibiayai dengan skema business to business (B to B) biaya ini tidak terlalu besar, apalagi jika Net Present Value (NPV), Profitability Index (PI), dan Internal Rate of Return (IRR) yang merupakan tiga macam tolok ukur profitabilitas angkanya tinggi.
 
Pemilik proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung adalah perusahaan patungan (JVC) Konsorsium Indonesia (60%) dan China (40) dengan nama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Untuk Pembiayaan proyek 25% (KCIC) dan 75% (China Development Bank). Dari 25% pembiayaan proyek, konsorsium Indonesia menyetor equity :
  • Wika 38% ⇒ 38% x 25% x 60% x 78 T = 4,446 T
  • KAI 25% ⇒ 25% x 25% x 60% x 78 T = 2,925 T
  • N8 25% ⇒ 25% x 25% x 60% x 78 T = 2,925 T
  • JM 12% ⇒ 12% x 25% x 60% x 78 T =1,404 T
Totalnya Konsorsium Indonesia 11,7 T (60% dari 25% pembiayaan proyek)
Angka tersebut sudah termasuk penggunaan aset dari masing-masing BUMN dalam bentuk sewa lahan dalam jangka waktu 40 tahun. Proyeksi yang akan dibayarkan oleh konsorsium BUMN Indonesia dalam bentuk uang cash adalah sebesar Rp 4 T.
 
Sisanya adalah adalah setoran konsorsium China : 40% x 25% x 78 T = 7,800 T
  • Pinjaman China Development Bank ⇒ 75% x 78 T = 58,500 T
  • Pinjaman USD ⇒ 63% (bunga 2%)
  • Pinjaman RMD ⇒ 37% (bunga 3,46%)

bersambung (FRM)

Call us (021) 7591 5993

Please call us at office time 08.00 - 17.00 Monday - Friday

Cika-indonesia.com - Copyright © 2026 All rights reserved.