foto: reuters
CIKANEWS/transportasi - Langkah pemerintah untuk segera mewujudkan pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta diapresiasi oleh Direktur Eksekutif Infrastructure Partnership Knowledge Center (IPKC) Harun Al Rasyid Lubis. Dalam diskusi “Pembangunan Kereta Api Cepat Bandung-Jakarta: Kebutuhan atau Pencitraan?” di Jakarta, Senin (11/1) Harun mengatakan, kereta cepat memang moda transportasi yang pantas untuk dikembangkan di Indonesia.
Sesuai dengan misi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara maju di tahun 2035, kereta cepat menjadi satu moda transportasi yang harus ada. “Dari sisi efisiensi energi, berdasarkan hasil survei di beberapa negera seperti UIC, Prancis, penghematan energi yang bisa didapatkan 8,5 kali lipat per kilometer dibandingkan menggunakan moda transportasi lain,”
Selain dapat lebih efisien dalam penggunaan energi, dia menambahkan, kereta cepat juga dapat membuat waktu tempuh antar satu wilayah dengan wilayah lainnya yang berjauhan menjadi lebih cepat dengan biaya yang tidak jauh berbeda. Tak hanya itu, kereta cepat dinilai juga mampu menumbuhkan ekonomi Indonesia, terutama yang dilalui kereta cepat. "Pembangunan kereta api cepat sangat memungkinan. Dan kalau saya bisa berpendapat, ini bukan hanya soal angkut mengangkut orang, tapi sosial ekonomi benefit dalam jangka panjang," kata Harun.
Proyek kereta api cepat secara resmi direncanakan akan dimulai pembangunannya (groundbreaking) pada 21 Januari 2016. Proyek kereta cepat akan dibayai sebagian besar oleh China Development Bank (CDB) dengan skema pembagiannya 75 persen CDB, dan sisanya ekuitas dua perusahaan konsorsium dari PT Pilar Sinergi BUMN dan PT China Railways International Co, Ltd.
(DWP)