foto: REUTERS
Proyek kereta cepat Jakarta-Bandung diyakini akan menggerakkan masuknya aliran investasi dari sektor-sektor pendukung, baik yang terkait langsung maupun tidak langsung.
Optimistis ini disampaikan oleh Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani. Investasi yang diharapkan dapat terdorong langsung adalah perusahaan
rolling stock atau pembuatan sarana perkeretaapian, perakitan atau
assembling, serta besi dan baja untuk bahan baku gerbong.
Franky Sibarani menyampaikan bahwa beberapa daerah sudah mulai aktif untuk menyiapkan investasi di sektor-sektor yang dapat mendukung moda transportasi massal tersebut. “Purwakarta sudah ada penjajakan untuk pendirian perusahaan rolling stock. Sementara assembling juga telah dijajaki di Surabaya, selain itu juga dijajaki produksi slab aluminium untuk bahan baku gerbong kereta yang selama ini impor,” katanya.
Menurut Franky, dengan masuknya investasi di sektor pendukung kereta cepat tersebut, maka akan semakin mempermudah bagi pembangunan kereta cepat selanjutnya. “Ketersediaan produk-produk pendukung kereta cepat ini akan memberikan akses bagi investor untuk mengembangkan rute-rute potensial lainnya,” ungkapnya.
Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) berharap pembangunan kereta cepat rute Jakarta Bandung meningkatkan nilai realisasi investasi China. Apabila berjalan sesuai rencana, maka proyek kereta cepat Jakarta-Bandung akan menjadi realisasi investasi pemodal China yang terbesar di Indonesia pada tahun ini.
Perlu diketahui bahwa proyek kereta cepat Jakarta - Bandung dengan nilai investasi sebesar US$5.573 miliar ini tidak menggunakan APBN, serta tanpa adanya jaminan dari pemerintah. Hal itu disampaikan oleh Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC), Hanggoro Budi Wiryawan.
"Investasi ini dibiayai secara mandiri oleh konsorsium BUMN Indonesia dan Konsorsium China Railways dengan skema
business to business," ujar Hanggoro.
(YAS)