Cika Indonesia
Client Sign In
Indonesia (Bisa) Punya Shenzhen
Monday, 21 Dec 2015 - 17:16:24
Foto: shenzhen-standard.com

CIKANEWS/transportasi - China kini telah membangun lebih dari 500 kota, hingga membuat negeri Panda menjadi raksasa dunia yang nyaris mengalahkan Amerika. Namun dalam membangun kota-kota tersebut, nampaknya membangun Shenzhen, memiliki arti sejarah tersendiri bagi negeri Xi Jinping, presiden China.
 
Kota yang terletak di Provinsi Guandong itu menjadi metropolitan dunia yang memiliki sejarah yang unik. Kota ini dahulunya dikenal sebagai kampung nelayan yang miskin. Ketika tahun 1970, penduduknya hanya sekitar 30.000, dan mayoritas mata pencahariannya sebagai nelayan yang miskin.
 
Namun China memilih Shenzhen untuk dibangun sebagai kota baru, karena kalau negeri ini harus membangun kota di Beijing, problemnya sangat kompleks. Deng Xiaoping sebagai pemimpin tertinggi di China era 70-an, yang memiliki visi ke depan untuk menjadikan China sebagai negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, mulai mengembangkan model kota baru, yang ke depan diharapkan menjadi metropolitan kelas dunia.
 
Latar belakang semacam itulah yang mendasari pembangunan Shenzhen yang terletak di kota nelayanan. Di kota Nelayan yang letaknya tak jauh dari HongKong, China bisa membuat apa saja untuk mewujudkan kota metopolitan kelas dunia, tanpa harus menghadapi problem yang kompleks bila dibangun di Beijing misalnya.
 
Obsesi China untuk menjadikan Shenzhen sebagai metropolitan ternyata kini menjadi kenyataan. Bahkan bila dibanding dengan metropolitan dunia, pertumbuhan Shenzhen menjadi metropolitan relatif cepat. Hanya dalam waktu 30 tahun, Shenzhen boleh dikatakan sudah sejajar dengan Hongkong, yang menjadi pusat bisnis dunia. Bahkan bila dibanding dengan Tokyo, Londong, New York dan Merlbourne, Shenzhen boleh disejajarkan. Gedung-gedung pencakar langit di Shenzhen sudah hampir sama dengan dengan gedung-gedung pencakar langit di metropolitan dunia.
 
Di Shenzen kini terdapat 8.000 industri dengan berbagai segmen. Shenzhen kini seperti menjadi rumah bagi perusahaan teknologi tinggi paling sukses di China, termasuk BYD, Konka, Skyworth, Tencent, Collpad, ZTE, Gionee, TP-Link, DJI, BGI (Beijing Genomics Institute) dan Huwei.
 
Tentu yang menjadi pertanyaan, apakah Indonesia bisa mengikuti langkah China membangun kota Shenzhen?
 
Mochtar Riady, Chairman LIPPO Group justru melihat Bekasi dan Karawang sudah menjadi Shenzhen-nya Indonesia. Di timur Jakarta ini telah berdiri perusahaan nasional dan internasional. Bahkan di kabupaten ini juga telah diproduksi satu juta mobil dan 10 juta motor. Tak ada kota di dunia yang manandingi Bekasi dan Karawang dalam memproduksi otomotif.
 
Bahkan peluang untuk membangun Shenzhen tak hanya tertutup di Bekasi dan Karawang. Apalagi dengan rencana hadirnya Kereta Cepat Jakarta-Bandung, yang konsepnya terintegrasi dengan pengembangan kawasan (Transit Oriented Development/TOD) sepanjang koridor Kereta Cepat yang terletak di antara dua metropolitan tersebut.
 
 Selain di Karawang, TOD itu juga akan dibangun di Halim, Walini dan Gedebage. Di Walini yang letaknya di Bandung Barat, pendirian TOD itu juga akan diintegrasikan dengan pengembangan kota baru Walini.
 
Kereta cepat Jakarta-Bandung janganlah dilihat sebagai sarana transportasi saja. Kereta cepat ini juga kurang pas bila dihadapkan dengan jalan tol Cipularang dan kereta api komersial Jakarta Bandung. Seiring perkembangan kota Jakarta-Bandung menjadi urban city sebagaimana Hongkong-Shenzhen dan kota metropolitan di AS, kehadiran kereta cepat, merupakan solusi lahirnya kota-kota baru antara Jakarta-Bandung di masa mendatang.
 
Masyarakat yang tinggal di Bandung, Walini, Karawang, tetapi bekerja atau memiliki bisnis di Jakarta, mereka tak perlu harus tinggal di Jakarta. Mereka bisa menjangkau kota Jakarta dengan waktu yang relatif singkat dengan kereta cepat.
 
Masalahnya bila di Karawang dan Bekasi yang oleh Mochtar Riady terlebih dahulu merintis sebagai kotra metropolis sebagaimana dengan Shenzhen, bagaimana dengan Walini yang kini tengah mengkonsep dirinya sebagai kota baru. Disinilah barangkali tantangan Walini dalam membangun kota baru, perlu belajar dari Shenzhen agar ke depan bisa menjadi metropolitan berkelas dunia. Semoga. 

(STO)

Call us (021) 7591 5993

Please call us at office time 08.00 - 17.00 Monday - Friday

Cika-indonesia.com - Copyright © 2026 All rights reserved.