foto: bisnis.com
Pelajaran dari Kemacetan Tak Terduga
CIKANEWS/transportasi - Beberapa waktu yang lalu di media sosial, setidaknya ada tiga profesor berbagai bidang keahlian mendesak Pemerintah Joko Widodo untuk membatalkan rencana pembangunan Kereta Cepat Bandung-Jakarta. Mereka beralasan, sudah ada tiga moda transportasi, yaitu jalan tol Cipularang, Kereta Api regular dan pesawat udara yang menghubungkan dua kota tersebut, sehingga Kereta cepat itu kurang relevan dibangun.
Statemen para profesor tersebut tentu menyedot perhatian publik, karena mereka disamping jebolan dan pengajar di Universitas terkenal di Indonesia, juga pernah menduduki jabatan setingkat menteri yang cukup prestisius di negeri ini. Desakan untuk membatalkan proyek kereta cepat Bandung – Jakarta itu seakan menjadi “Fatwa” yang dianut oleh publik dalam merespon rencana pembangunan kereta cepat tersebut.
“Fatwa” para profesor itu juga diikuti para pemimpin partai pendukung pemerintah, yang seharusnya mendukung program kereta cepat, karena program tersebut diusung oleh Pemerintah Joko Widodo. Mereka mementahkan program kereta cepat, karena mereka nilai tidak sesuai dengan Nawa Cita yang digelorakan oleh presiden.
Masalahnya sekarang, ketika di penghujung tahun 2015, di saat masyarakat tengah merayakan Natal dan menjelang tahun baru, publik dikejutkan dengan kasus kemacetan di sekitar Jakarta, Jawa Barat dan Banten, yang oleh banyak kalangan dinilai lebih parah bila dibanding dengan mudik Lebaran, yang melibatkan jutaan orang.
Jangankan untuk menuju ke Jawa Tengah yang macetnya lebih dari 24 jam melalui tol baru Cipali, untuk ke Bandung yang biasa ditempuh dari Jakarta 1,5 – 2 jam lewat tol dalam keadaan normal atau 3 jam dalam keadaan macet, pada perayaan Natal justru ditempuh hingga 21 Jam.
Sungguh sebuah pelajaran yang sangat berharga bagi setiap orang untuk melakukan perjalanan ke Bandung melalui jalan tol selama 21 jam. Berapa banyak bahan bakar yang harus mereka keluarkan, dan berapa besar dana yang harus dikeluarkan untuk membiayai konsumsi selama berjam-jam menunggu di jalan tol. Padahal untuk ke Bandung sesungguhnya masih ada kereta regular dan pesawat udara. Tapi toh kemacetan pada hari Natal itu memberikan pelajaran yang sangat berharga, dimana kemacetan melalui jalan tol selama 21 jam telah menjadi realitas. Lantas bagaimana dengan tahun depan, lima, sepuluh dan dua puluh tahun ke depan?
(STO)