Konsorium Kereta Cepat Tak Akan “Ngos-Ngosan”
Wednesday, 06 Jan 2016 - 12:25:46
foto: sindonews.com
CIKANEWS/transportasi - Presiden Joko Widodo meminta jajaran konsorsium kereta cepat Bandung - Jakarta menghitung secara hati-hati ekuitas (modal) untuk mendanai proyek tersebut. Ia menginginkan, agar pelaksanaan pembangunan infrastruktur tersebut tidak “ngos-ngosan” akibat kalkulasi yang tidak cermat.
Instruksi presiden tersebut tentu menjadi pedoman bagi direksi BUMN yang terlibat dalam konsorsium kereta cepat Bandung-Jakarta. Tak hanya dalam menghitung, dalam menyetorkan ekuitas pun harus hati-hati. Untuk menyetorkan modal, Konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) harus memenuhi aturan sebelum menyetorkan modalnya. “Misalnya melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa,” tegas Adityawarman, Direktur Utama PT Jasa Marga.
PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia merupakan konsorsium BUMN yang terdiri dari PT Wijaya Karya Tbk, PT Jasa Marga Tbk, PT Kereta Api Indonesia dan PT Perkebunan Nusantara VIII. Untuk mendanai pembangunan Kereta cepat sebesar US$ 5,5 miliar (Rp 70 triliun), 25% didanai dari ekuitas PSBI dan konsorsium China yang tergabung dalam PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC). Sedangkan 75% mendapat pinjaman dari Bank Pembangunan China (CDB).
Setoran dana ekuitas dan penarikan pinjaman dari CDB dilakukan secara bertahap. Komposisinya satu banding tiga. Kalau misalnya konsorsium sudah menyetor ekuitas awal sebagaimana dipersyaratkan Kementerian Perhubungan Rp 1,25 triliun, maka konsorsium sebagaimana dijelaskan Bintang Prabowo, Direktur Utama PT Wijaya Karya Tbk, bisa mencairkan pinjaman dari CDB sebesar Rp 3,75 triliun.
Melalui skema pembiayaan semacam itu, konsorsium tak akan “ngos-ngosan”. Begitu lunas menyetor ekuitas tahap pertama, dan menarik pinjaman dari CDB, konsorsium langsung memiliki dana kurang lebih Rp 5 triliun untuk memulai pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta. Begitu groudbreaking, proyek ini akan langsung tancap.
(STO)