Foto: Menteri BUMN Rini Soemarno, Dubes China untuk Indonesia Xie Feng, CRW Chief Engineer He Huawu, dan Managing Director Sinar Mas G. Sulistiyanto berjabat tangan usai pembukaan Pameran Kereta Cepat Dari Tiongkok di Jakarta, Kamis (13/8/15). Antarafoto.com/Rivan Awal Lingga
CIKANEWS/transportasi - Meningkatnya volume kendaraan mengakibatkan padatnya jalan yang dipenuhi oleh kendaraan pribadi dan umum yang tidak jarang menimbulkan kemacetan panjang. Pemerintah sebagai pelayan masyarakat tentunya memutar otak untuk memikirkan jalan keluar yang akan menguntungkan semua pihak.
Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah mewujudkan transportasi yang terintegrasi satu sama lainnya sehingga akan memangkas waktu tempuh yang akan menguntungkan bagi para penggunanya nanti. Hal ini juga dapat mengurangi kemacetan lalu lintas yang ada dan akan lebih memperlancar jalannya perekonomian dan bisnis.
Jika hal ini dapat terwujud tentunya akan berdampak positif pula bagi pemerintah daerah itu sendiri dan juga pemerintah pusat.
Moda transportasi tersebut ada yang telah dimulai pembangunannya dan ada yang baru direncanakan dan akan segera dilaksanakan jika telah selesai dibahas dan disepakati.
Sebut saja seperti proyek kereta bandara Soetta yang akan terintegrasi Trans Jakarta dan Mass Rapid Transit (MRT) yang telah di mulai pembangunannya dan proyek kereta cepat Bandung-Jakarta yang akan tersinkronisasi dengan monorel atau dengan Light Rapid Transit (LTR) Bandung Raya.
Proyek Kereta Bandara Soetta
Proyek kereta bandara ini telah dimulai pembangunannya pada Juli 2015. Proyek yang menghubungkan bandara Soekarno – Hatta dengan stasiun Manggarai, Jakarta Selatan ini dijadwalkan selesai pada akhir 2016. Proyek ini merupakan proyek PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebagai tindak lanjut dari Perpres Nomor 83 Tahun 2011 tanggal 24 November 2011 tentang penugasan kepada PT KAI untuk menyelenggarakan prasarana dan sarana KA Bandara Soekarno – Hatta dan Jalur Lingkar Jakarta–Bogor–Depok–Tangerang–Bekasi.
Total jarak yang dilintasi adalah 36,3 km yang terdiri dari 24,2 km jalur eksisting dan 12,1 km jalur baru. Pembangunan jalur baru ini dilakukan berdasarkan studi kelayakan finansial dan teknis yang sejak Februari 2013 lalu selesai dilakukan oleh Lembaga Afiliasi Penelitian Industri (LAPI) Institut Teknologi Bandung (ITB). Pembebasan lahan proyek ini memerlukan biaya investasi Rp 2,5 triliun yang diperoleh dari pembiayaan sindikasi empat bank, yakni, BCA, BNI, BRI, dan Bank Mandiri senilai total Rp2 triliun.
Kereta Bandara ini terdiri dari enam kereta yang dapat memuat 272 penumpang. Diperkirakan hanya membutuhkan waktu tempuh 60 menit dari Manggarai sampai Bandara Soekarno – Hatta. KA Bandara ini juga akan terintegrasi dengan halte Transjakarta dan Mass Rapid Transit (MRT). Jam beroperasinya direncanakan mengikuti jadwal penerbangan. Jika ada penerbangan jam 05.00 WIB, maka pemberangkatan pertama jam 04.00 WIB. Nantinya akan ada 124 perjalanan kereta dalam sehari yang rencananya tiketnya akan dibanderol Rp 100 ribu per orang dan tidak diperuntukkan untuk penumpang berdiri.
Kereta Cepat Bandung-Jakarta
Pembangunan monorel di Jawa Barat akan terintegrasi dengan pembangunan kereta cepat Bandung-Jakarta seperti yang diungkapkan Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Iwa Karniwa seusai rapat dengan Konsorsium Chong King, Tiongkok, di Gedung Sate Bandung, Senin (14/12/2015).
Ia mengatakan bahwa sekarang sudah ada sinkronisasi dengan kereta api super cepat Bandung-Jakarta dengan monorel atau dengan LRT (light rapid transit) Bandung Raya. Selanjutnya ia mengatakan sinkronisasi antara monorel Jawa Barat dengan Kereta Cepat Bandung-Jakarta lebih lanjut akan dibahas oleh Dinas Perhubungan Jawa Barat.
Sementara itu, Kepala Dinas Perhubungan Jawa Barat Dedy Taufik menambahkan integrasi atau sinkronisasi antara monorel dengan kereta super cepat Bandung-Jakarta adalah aspek program, bukan investor.
Ia menambahkan, pembangunan Kereta Api Cepat Bandung-Jakarta, monorel Jabar dan LRT Kota Bandung harus saling terkoneksi. "Masa sekarang pergerakannya dari Jakarta ke Bandung 35 menit, tapi terus naik bus kota. Kita bicara sinkronnya, atau transit oriented development," katanya.
Ia mengatakan sinkronisasi tersebut akan ditentukan jika Pemprov Jabar sudah menentukan akan membangun monorel atau LRT (kereta ringan) di kawasan Bandung Raya.
(YAS)