foto: istimewa - cikaindonesia.com
CIKANEWS/infrastruktur - PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) berharap akan tangani kontrak Rp88 triliun di tahun 2016. Kontrak ini hasil dari proyeksi tahun 2016 sebesar Rp52,3 triliun dan kontrak tahun 2015 senilai Rp 33,7 triliun.
Dari proyeksi kontrak baru senilai Rp 52,3 triliun, dari proyek kereta cepat atau high speed rail (HSR) sebesar 17 triliun, dari power plant senilai Rp 10 triliun, dari pembangunan gedung pemerintahan senilai Rp5 triliun, dari proyek luar negeri senilai Rp 2 triliun, sedangkan sisanya berasal dari proyek tol di dalam negeri.
"Dari kontrak baru Rp52,3 triliun kita dapat HSR itu sebesar Rp17 triliun. Dari power plant Rp10 triliun, pembangunan gedung pemerintahan Rp5 triliun. Di luar negeri, Timor Leste, Malaysia dan lain-lainnya sekira Rp2 triliun. Sisanya dari tol dalam negeri, tol Samarinda, Tol Pandaan-Malang, tol Batang-Semarang dan tol-tol yang sebagian besar dari APBN. Itu yang kita akan capai, kontrak Rp52,3 triliun,"
Suradi Wongso, Sekretaris Perusahaan WIKA mengatakan, proyek senilai US$ 5,5 miliar tersebut akan groundbreaking pada 21 Januari mendatang di Walini.
"Kita berharap tanggal 14 Januari semua izin sudah rampung," ujarnya di Jakarta baru-baru ini.
Sebelumnya, pada proyeksi 2015 WIKA hanya mencapai Rp25,5 triliun dari target Rp31 triliun. Meski demikian proyeksi tahun 2016 yang mencapai lebih dari 100 persen dari tahun 2015 itu tetap diyakini optimis oleh PT Wijaya Karya Tbk. Menurut Suradi, hal ini dikarenakan untuk awal tahun saja pemerintah sudah cukup menjanjikan dalam menjalani proyek infrastruktur.
"Karena tahun itu (2015) kondisi di pemerintah masih dalam proses peralihan dari pemerintah lama ke baru dan penempatan nomenklatur sehingga target-target jadi terhambat. Tahun 2016 optimis, kita realistis sekali, pemerintah lebih yakin untuk melaksanakan infrastruktur di awal tahun, oleh karena itu kita menaikan target lebih dari 100 persen dari pencapaian 2015," tutur Suradi.
Namun, Suradi mengaku kendala yang akan dihadapi WIKA dalam proyeksi 2016 adalah permodalan atau pun infrastruktur yang menunjang.
"Kekhawatiran industri konstruksi itu sendiri, kalau dari kekuatan sumber daya itu sudah jomplang, yang pertama kendalanya permodalan atau pun infrastruktur yang menunjang," jelasnya.
(KML)